DUH! Sebagai seorang foodie sejati, saya teramat sangat bangga + terharu waktu saya tahu bahwa Rendang dari Indonesia dinobatkan sebagai makanan paling enak SEDUNIA.
Dan gak tanggung-tanggung, yang menobatkan adalah http://www.cnngo.com/.
Lalu simbol bangsa Indonesia yang tersohor itu, Nasi Goreng, masuk sebagai nomor dua!
Memang sih it's so 2011. But still...
*Oink terharu sampai menitikkan air mata* :_)
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Tuesday, 1 May 2012
Sunday, 29 April 2012
Interesting Facts: Danau Kelimutu in Flores
Hari ini acara Ring of Fire Adventure di Metro TV bicara tentang Danau Kelimutu di Flores. Acaranya menarik juga, gue jadi belajar beberapa hal baru atau fakta menarik tentang Danau Kelimutu di Flores.
Danau Kelimutu ternyata terdiri dari tiga danau berbentuk kawah dengan warna yang berbeda-beda dan masing-masing mempunyai nama. Masyarakat setempat percaya, bahwa sesudah meninggal arwah mereka akan berdiam di salah satu danau ini.
Danau yang paling kiri namanya Tiwu Ata Mbupu, warnanya agak hitam dan kecokelatan. Katanya danau ini adalah tempat perginya arwah orang-orang yang meninggal pada usia tua.
Danau yang kedua warnanya agak biru muda, namanya Tiwu Nuwa Muri Ko'o Fai. Danau ini tempat bersemayamnya orang-orang yang meninggal pada saat mereka masih berusia muda.
Terus, yang paling kanan namanya Tiwu Ata Polo warnanya hijau tua. Katanya danau ini adalah tempat untuk arwah-arwah orang jahat. Mungkin semacam Neraka kali ye.
Danau Kelimutu is so gorgeous!
Mau tahu lebih lanjut tentang ekspidisi Ring of Fire Adventure? Click di sini.
Danau Kelimutu ternyata terdiri dari tiga danau berbentuk kawah dengan warna yang berbeda-beda dan masing-masing mempunyai nama. Masyarakat setempat percaya, bahwa sesudah meninggal arwah mereka akan berdiam di salah satu danau ini.
Danau yang paling kiri namanya Tiwu Ata Mbupu, warnanya agak hitam dan kecokelatan. Katanya danau ini adalah tempat perginya arwah orang-orang yang meninggal pada usia tua.
Danau yang kedua warnanya agak biru muda, namanya Tiwu Nuwa Muri Ko'o Fai. Danau ini tempat bersemayamnya orang-orang yang meninggal pada saat mereka masih berusia muda.
Terus, yang paling kanan namanya Tiwu Ata Polo warnanya hijau tua. Katanya danau ini adalah tempat untuk arwah-arwah orang jahat. Mungkin semacam Neraka kali ye.
Danau Kelimutu is so gorgeous!
Mau tahu lebih lanjut tentang ekspidisi Ring of Fire Adventure? Click di sini.
Location:
Jakarta Capital Region, Indonesia
Ring of Fire Adventure on Metro TV
Barusan selesai nonton acara Ring of Fire Adventure di Metro TV. Jadi ngiler banget nih. Program ini mendokumentasikan perjalanan seorang ayah dan anak-anaknya berkeliling Indonesia. Kadang-kadang naik motor, tapi kadang-kadang juga naik mobil. Tempat-tempat yang dikunjungi juga bukan tempat yang banyak dikunjungi orang, tapi ternyata tempat-tempat ini alamnya indah banget. They are trully Indonesia's hidden gems.
Di episode hari ini mereka menyusuri Danau Kelimutu di Flores. Haduuuhh sirik banget deh gue. Ini cita-cita gua banget! Pengen banget bisa menjelajahi alam Indonesia yang luar biasa cantiknya itu. Duh kapan yah bisa kesampaian? Kira-kira kalo nebeng Ring of Fire Crew dikasih gak ya? Haha!
Untuk informasi lebih lanjut tentang Ring of Fire Adventure bisa click di sini.
Di episode hari ini mereka menyusuri Danau Kelimutu di Flores. Haduuuhh sirik banget deh gue. Ini cita-cita gua banget! Pengen banget bisa menjelajahi alam Indonesia yang luar biasa cantiknya itu. Duh kapan yah bisa kesampaian? Kira-kira kalo nebeng Ring of Fire Crew dikasih gak ya? Haha!
Untuk informasi lebih lanjut tentang Ring of Fire Adventure bisa click di sini.
Location:
Jakarta Capital Region, Indonesia
Saturday, 28 April 2012
Seandainya Mereka Tidak Korupsi, ....
1. Seandainya mereka tidak korupsi, pastilah jumlah rakyat Indonesia yang hidup di bawah kemiskinan jauh lebih kecil.
2. Seandainya mereka tidak korupsi, pastilah pemerintah punya uang lebih untuk memberikan pendidikan gratis bagi seluruh anak Indonesia.
3. Seandainya mereka tidak korupsi, pemerintah tidak akan menyia-nyiakan waktu mereka untuk menyelidiki kasus korupsi. Waktu pemerintah bisa dipakai lebih baik untuk memperbaiki Jakarta yang macetnya udah gak karu-karuan... Ayo donk, masak Jakarta harus kalah sama Bangkok yang sudah berhasil mengatasi kemacetan?
4. Seandainya mereka tidak korupsi, Jakarta mungkin gak akan semacet sekarang ini. Dan daerah-daerah Indonesia lainnya, terutama di Indonesia Timur, bisa lebih berkembang infrastrukturnya.
5. Seandainya mereka tidak korupsi, pemerintah mungkin mampu memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat yang memerlukan.
6. Seandainya mereka tidak korupsi, mungkin acara berita televisi di Indonesia bisa lebih beragam dan tidak melulu didominasi oleh berita-berita korupsi oleh pejabat negara. Bosan tau!
7. Seandainya mereka tidak korupsi, mungkin budaya sogok-menyogok tidak akan populer di negeri ini.
8. Seandainya mereka tidak korupsi, saya tidak akan menulis blog ini di tengah malam kayak begini. Pasti saya udah tidur dari tadi :-p
Seandainya, seandainya, seandainya... ahhh aku kan cuman bisa berkhayal. I'm just a small potato in the great scheme of things. Siapalah aku untuk mengubah dunia persilatan para pejabat ini....
Yuk ah ane ciao dulu.
2. Seandainya mereka tidak korupsi, pastilah pemerintah punya uang lebih untuk memberikan pendidikan gratis bagi seluruh anak Indonesia.
3. Seandainya mereka tidak korupsi, pemerintah tidak akan menyia-nyiakan waktu mereka untuk menyelidiki kasus korupsi. Waktu pemerintah bisa dipakai lebih baik untuk memperbaiki Jakarta yang macetnya udah gak karu-karuan... Ayo donk, masak Jakarta harus kalah sama Bangkok yang sudah berhasil mengatasi kemacetan?
4. Seandainya mereka tidak korupsi, Jakarta mungkin gak akan semacet sekarang ini. Dan daerah-daerah Indonesia lainnya, terutama di Indonesia Timur, bisa lebih berkembang infrastrukturnya.
5. Seandainya mereka tidak korupsi, pemerintah mungkin mampu memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat yang memerlukan.
6. Seandainya mereka tidak korupsi, mungkin acara berita televisi di Indonesia bisa lebih beragam dan tidak melulu didominasi oleh berita-berita korupsi oleh pejabat negara. Bosan tau!
7. Seandainya mereka tidak korupsi, mungkin budaya sogok-menyogok tidak akan populer di negeri ini.
8. Seandainya mereka tidak korupsi, saya tidak akan menulis blog ini di tengah malam kayak begini. Pasti saya udah tidur dari tadi :-p
Seandainya, seandainya, seandainya... ahhh aku kan cuman bisa berkhayal. I'm just a small potato in the great scheme of things. Siapalah aku untuk mengubah dunia persilatan para pejabat ini....
Yuk ah ane ciao dulu.
Tuesday, 27 March 2012
Stereotyping The Indonesian Soap Opera
Sinetron atau yang bahasa kerennya soap opera menjamur di Indonesia sudah sejak dahulu kala (thanks to Raam Punjabi, Raja Sinetron Indonesia).
Selama bulan-bulan pertama saya di Indonesia, saya sempat mengikuti beberapa sinetron di RCTI (habis enggak ada acara lain yang bisa ditonton sih). Tapi kalau mau jujur, sekarang sepertinya saya sudah mencapai titik jenuh, sampai-sampai saya sudah hapal sama neka-neko nya sinetron Indonesia.
Saya pun tergoda untuk stereotyping sinetron-sinetron ini dan menulis hasil observasi saya di sini:
Selama bulan-bulan pertama saya di Indonesia, saya sempat mengikuti beberapa sinetron di RCTI (habis enggak ada acara lain yang bisa ditonton sih). Tapi kalau mau jujur, sekarang sepertinya saya sudah mencapai titik jenuh, sampai-sampai saya sudah hapal sama neka-neko nya sinetron Indonesia.
Saya pun tergoda untuk stereotyping sinetron-sinetron ini dan menulis hasil observasi saya di sini:
- Sinetron Indonesia dulu banyak tentang orang miskin Vs. orang kaya. Kalau miskin, miskin banget dan kalau kaya, kaya banget. Tapi sekarang lebih banyak tentang anak yang hilang/ditukar. Kalau enggak, tentang anak kembar yang terpisah.
- Kalau di sinetron melakukan hasil test DNA itu gampang banget dan mungkin murah kali ya? Sering banget test DNA. Yang lucunya hasil test DNA nya sering tertukar-tukar atau sering ditukar. Hahaha!
- Pemeran antagonisnya kalo jahat, jahatnya keterlaluan sampai kadang-kadang enggak masuk akal.
- Kalau marah, sedih, kaget atau bingung, muka sang artist suka di zoom dekat-dekat sampai berkali-kali sambil memainkan background music yang rada corny.
- Sering banget muka-muka para pemain sinetron di zoom satu-satu (jarang terlihat dua muka atau lebih dalam satu frame) terus di flash bolak-balik dari satu pemain ke pemain lain. Sampai-sampai saya jadi pusing nontonnya kekeke. Katanya ini enggak bagus buat anak kecil yang nonton, nanti memorynya jadi terganggu. Katanye sih...
- Hmm... artist-artisnya sih lumayan cantik-cantik dan ganteng-ganteng tapi kadang-kadang make-upnya itu amburadul. Mbok yo kalau lagi jerawatan mukanya ditutup dengan make-up sampai rapih. Kan bisa request sama make-up artistnya... Mungkin lupa kali ya? Kekeke.
Friday, 16 December 2011
Rajin Merokok
Banyak hal postif yang kita bisa lihat dari kehidupan orang-orang Indonesia. Orang Indonesia itu kebanyakan ramah, santun dan tidak ragu untuk menolong orang lain sekalipun orang yang tidak dikenal.
Tapi ada juga kebiasaan jelek bangsa ini yang bikin saya gemas, yaitu rajin merokok. Gak heran ya, orang terkaya di Indonesia itu bos pabrik rokok, kekeke.
Kemana saja saya pergi dan di mana saja saya berada paling tidak ada 1 orang yang merokok di sekitar saya. Sebenernya agak mendingan sih, kalau mereka hanya merokok di tempat umum yang terbuka.
Yang bikin hajab itu adalah orang-orang yang kurang tau diri dalam hal rokok-merokok. Contohnya merokok di dalam ruangan tertutup dan/atau ber-AC, merokok di dalam bus/angkutan umum yang jendelanya tertutup semua dan ber-AC atau bahkan merokok di dalam toilet. Agak-agak kurang considerate sama orang lain gitu...
Yah, tapi kalau namanya kebiasaan yang sudah mendarah daging itu pasti tidak bisa dihilangkan begitu saja. Padahal sudah tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan paru-paru kita dan kantong kita.
Terpaksa deh saya pake masker atau terima nasib saja sebagai passive smoker.
Tapi ada juga kebiasaan jelek bangsa ini yang bikin saya gemas, yaitu rajin merokok. Gak heran ya, orang terkaya di Indonesia itu bos pabrik rokok, kekeke.
Kemana saja saya pergi dan di mana saja saya berada paling tidak ada 1 orang yang merokok di sekitar saya. Sebenernya agak mendingan sih, kalau mereka hanya merokok di tempat umum yang terbuka.
Yang bikin hajab itu adalah orang-orang yang kurang tau diri dalam hal rokok-merokok. Contohnya merokok di dalam ruangan tertutup dan/atau ber-AC, merokok di dalam bus/angkutan umum yang jendelanya tertutup semua dan ber-AC atau bahkan merokok di dalam toilet. Agak-agak kurang considerate sama orang lain gitu...
Yah, tapi kalau namanya kebiasaan yang sudah mendarah daging itu pasti tidak bisa dihilangkan begitu saja. Padahal sudah tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan paru-paru kita dan kantong kita.
Terpaksa deh saya pake masker atau terima nasib saja sebagai passive smoker.
Ngantri Toilet 101
Saya merasa seperti orang bego waktu ikut antri di toilet umum di Jakarta. Saya mengantri dengan cara berdiri di samping toilet yang paling dekat dengan pintu masuk (karena saya pikir beginilah cara mengantri toilet yang benar, first in first out).
Eh, gak taunya dalam waktu 2 menit saya sudah diserobot oleh 10 orang ibu-ibu yang sudah kebelet (memangnya yang kebelet loe doank?). Mereka masuk ke toilet langsung melewati saya dan masing-masing mengantri di depan pintu-pintu toilet.
Wah hati saya dongkol juga, mereka main salip saja tapi muka tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Lah, akhirnya saya terpaksa maju juga ke pintu toilet yang paling ujung.
Belakangan saya baru sadar, ternyata cara antri toilet di Indonesia itu caranya langsung berdiri di depan pintu toiletnya. Jadi, baris antrian dibuat di depan masing-masing pintu toilet.
Meskipun saya merasa cara antri seperti ini adalah salah (karena tidak adil), mau tak mau harus saya ikuti. Karena kalau saya antri pakai cara yang menurut saya bener, itu alamat saya kencing tahun depan atau kencing di celana ajah sekalian.
Hehe kocak juga ya cara antri toiletnya. If you can't beat them, you join them. So true.
Eh, gak taunya dalam waktu 2 menit saya sudah diserobot oleh 10 orang ibu-ibu yang sudah kebelet (memangnya yang kebelet loe doank?). Mereka masuk ke toilet langsung melewati saya dan masing-masing mengantri di depan pintu-pintu toilet.
Wah hati saya dongkol juga, mereka main salip saja tapi muka tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. Lah, akhirnya saya terpaksa maju juga ke pintu toilet yang paling ujung.
Belakangan saya baru sadar, ternyata cara antri toilet di Indonesia itu caranya langsung berdiri di depan pintu toiletnya. Jadi, baris antrian dibuat di depan masing-masing pintu toilet.
Meskipun saya merasa cara antri seperti ini adalah salah (karena tidak adil), mau tak mau harus saya ikuti. Karena kalau saya antri pakai cara yang menurut saya bener, itu alamat saya kencing tahun depan atau kencing di celana ajah sekalian.
Hehe kocak juga ya cara antri toiletnya. If you can't beat them, you join them. So true.
Wednesday, 17 August 2011
Pa'Piong Makanan Khas Tana Toraja
Pa'Piong, makanan khasnya Orang Toraja, yaitu daging (biasanya daging babi) yang dibumbui dan dicampur dengan daun miyana lalu dimasukkan ke dalam bambu dan di bakar. Quite exotic, right?
Pertama kali saya mencicipi Pa'Piong itu waktu saya pergi melihat "pesta" nya orang Toraja, yaitu pesta pemakaman. Di pesta pemakaman ini ada beberapa kerbau dan babi yang disembelih untuk disajikan ke para tamu.
Saya lihat sendiri waktu babi babi itu disembelih. Selang 20 menit setelah penyembelihan, salah satu anggota keluarga penyelenggara pesta membawa bambu panjang yang panjangnya sekitar 30cm.
Lalu sambil duduk di samping saya, dia taruh sebakul nasi panas yang masih mengepul di depan saya. Dengan menggunakan sebatang lidi dia mengorek keluar isi bambu itu ke atas sebuah piring besar.
Ternyata isinya daging dari babi yang tadi disembelih, ini namanya Pa'Piong Bai (Pa'Piong dengan daging babi). Campuran bumbu dan daun daun itu membuat warna makanannya agak gelap kehitam hitaman.
Jujur, warna dan tampangnya sih kurang menggairahkan buat saya. Tapi setelah coba dua cicip, ternyata enak juga.
Warning buat yang tidak bisa makan pedas pedas. Salah satu campuran bumbu Pa'Piong adalah cabe. Pa'Piong biasanya bisa pedas sekali.
Kalau pesan Pa'Piong di restaurant biasanya harus "pre-order" dulu, sebab butuh persiapan dan waktu yang lama untuk memasaknya.
Pa'Piong di restaurant restaurant juga biasanya lebih mahal daripada yang di warung warung. Kalau di warung satu porsi Rp 15,000, tapi kalau di restaurant bisa Rp 40,000.
Pertama kali saya mencicipi Pa'Piong itu waktu saya pergi melihat "pesta" nya orang Toraja, yaitu pesta pemakaman. Di pesta pemakaman ini ada beberapa kerbau dan babi yang disembelih untuk disajikan ke para tamu.
Saya lihat sendiri waktu babi babi itu disembelih. Selang 20 menit setelah penyembelihan, salah satu anggota keluarga penyelenggara pesta membawa bambu panjang yang panjangnya sekitar 30cm.
Lalu sambil duduk di samping saya, dia taruh sebakul nasi panas yang masih mengepul di depan saya. Dengan menggunakan sebatang lidi dia mengorek keluar isi bambu itu ke atas sebuah piring besar.
Ternyata isinya daging dari babi yang tadi disembelih, ini namanya Pa'Piong Bai (Pa'Piong dengan daging babi). Campuran bumbu dan daun daun itu membuat warna makanannya agak gelap kehitam hitaman.
Jujur, warna dan tampangnya sih kurang menggairahkan buat saya. Tapi setelah coba dua cicip, ternyata enak juga.
Warning buat yang tidak bisa makan pedas pedas. Salah satu campuran bumbu Pa'Piong adalah cabe. Pa'Piong biasanya bisa pedas sekali.
Kalau pesan Pa'Piong di restaurant biasanya harus "pre-order" dulu, sebab butuh persiapan dan waktu yang lama untuk memasaknya.
Pa'Piong di restaurant restaurant juga biasanya lebih mahal daripada yang di warung warung. Kalau di warung satu porsi Rp 15,000, tapi kalau di restaurant bisa Rp 40,000.
Location:
Rantepao, Indonesia
Sunday, 7 August 2011
Up for Some Extreme Foods in Tentena?
Buku panduan Lonely Planet untuk Indonesia, 2010 Edition, menobatkan Tentena sebagai rajanya makanan aneh di Sulawesi. Hmm... emang seaneh apa sih makanan di Tentena?
Ternyata sebagian besar makanannya agak ngeri-ngeri, contohnya:
1. Daging Kelelawar
Orang lokal menyebutnya Paniki. Katanya daging kelelawar itu sangat enak dan penuh gizi, soalnya kelelawar itu adalah 100% pemakan buah-buahan. Mereka juga percaya bahwa makan Paniki bagus sekali untuk orang yang mempunyai masalah pernafasan. Bagian favourite saya yaitu sayap Batmannya. Hehehe alot elastis gak jelas gitu teskturnya.
2. Daging Ular
Wah kalau yang ini sih setelah saya coba, langsung ketagihan. Soalnya, dagingnya bener-bener mirip sama seafood. Hehehe maklumlah sayakan pecinta seafood. Dagingnya benar-benar putih bersih, katanya sih kolesterolnya rendah sekali karena semua fat nya berkumpul di bagian perut si ular saja. Dagingnya kaya gizi soalnya si ular tidak mau makan binatang mati, makanannya adalah binatang hidup yang dilahap bulat-bulat oleh si ular. Oh ya, ular yang dimakan di Tentena itu kebanyakan adalah sejenis Ular Phyton. Enaaak banget apalagi kalau digoreng tepung. Aduhai... lidahku meleleh.
3. Daging Anjing
Kode orang lokal untuk daging anjing adalah RW (baca: er-weh). Jujur, kalau yang ini sih udah crossed my line. Jadi yang ini saya gak sentuh sama sekali, jadi ga tau rasanya. Soalnya saya pernah punya banyak anjing piaraan sih. Kan ga tega :-(
4. Daging Tikus Hutan
Aduh mak... kalau yang ini sih juga udah gak masuk hitungan deh. Nyali saya masih belum ada buat nyobain daging tikus. I hate rats! Yuck! Maybe next time?
5. Daging Belut
Kalau yang ini sih terbilang normal buat saya. Soalnya saya suka banget sama yang namanya daging ikan belut. Enak! Rasanya seperti Lele Jumbo. Digoreng terus dimakan sama acar Dhabu-Dhabu ajah udah enaaaak banget!
Ternyata sebagian besar makanannya agak ngeri-ngeri, contohnya:
1. Daging Kelelawar
Orang lokal menyebutnya Paniki. Katanya daging kelelawar itu sangat enak dan penuh gizi, soalnya kelelawar itu adalah 100% pemakan buah-buahan. Mereka juga percaya bahwa makan Paniki bagus sekali untuk orang yang mempunyai masalah pernafasan. Bagian favourite saya yaitu sayap Batmannya. Hehehe alot elastis gak jelas gitu teskturnya.
2. Daging Ular
Wah kalau yang ini sih setelah saya coba, langsung ketagihan. Soalnya, dagingnya bener-bener mirip sama seafood. Hehehe maklumlah sayakan pecinta seafood. Dagingnya benar-benar putih bersih, katanya sih kolesterolnya rendah sekali karena semua fat nya berkumpul di bagian perut si ular saja. Dagingnya kaya gizi soalnya si ular tidak mau makan binatang mati, makanannya adalah binatang hidup yang dilahap bulat-bulat oleh si ular. Oh ya, ular yang dimakan di Tentena itu kebanyakan adalah sejenis Ular Phyton. Enaaak banget apalagi kalau digoreng tepung. Aduhai... lidahku meleleh.
3. Daging Anjing
Kode orang lokal untuk daging anjing adalah RW (baca: er-weh). Jujur, kalau yang ini sih udah crossed my line. Jadi yang ini saya gak sentuh sama sekali, jadi ga tau rasanya. Soalnya saya pernah punya banyak anjing piaraan sih. Kan ga tega :-(
4. Daging Tikus Hutan
Aduh mak... kalau yang ini sih juga udah gak masuk hitungan deh. Nyali saya masih belum ada buat nyobain daging tikus. I hate rats! Yuck! Maybe next time?
5. Daging Belut
Kalau yang ini sih terbilang normal buat saya. Soalnya saya suka banget sama yang namanya daging ikan belut. Enak! Rasanya seperti Lele Jumbo. Digoreng terus dimakan sama acar Dhabu-Dhabu ajah udah enaaaak banget!
Location:
Jalan Tentena - Poso, Poso, Indonesia
Friday, 5 August 2011
Indonesiaku Cantik Juga
Saya baru selesai ber-backpacking ria di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi selama 5 minggu. Wow, ternyata Indonesia exceeds my expectation.
Rupa-rupanya negri ini cantik juga, hehe jadi bangga rasanya. Dalam hati saya bilang pada diri sendiri "ternyata banyak juga ya tempat-tempat keren kayak begini di Indonesia".
Salah satu yang paling berkesan buat saya dari perjalanan ini adalah Ijen Crater atau Kawah Ijen. Kawah Ijen ini letaknya di dekat Banyuwangi, Jawa Timur.
Pertama kali saya mengenal tentang Kawah Ijen adalah dari karya photographer ternama Amerika, James Nachtwey. Beliau membuat documentary photos tentang sulphur miners di daerah Ijen. Kalau melihat hasil jepretan beliau, saya seperti ingin nangis di tempat karena saking bagusnya.
Karena melihat foto-foto inilah, akhirnya saya bertekad untuk melihat Kawah Ijen dengan mata kepala sendiri. Ternyata Ijen lebih cantik lagi dipandang dengan mata kepala sendiri. Aduhai... aku jadi jatuh cinta.
Jawa Tengah dan Sulawesi juga tidak kalah cantik sama Jawa Timur. Tapi setiap tempat yang saya kunjungi punya charm-nya masing-masing. Saya pikir Indonesia patut diexplore lebih banyak lagi.
Rupa-rupanya negri ini cantik juga, hehe jadi bangga rasanya. Dalam hati saya bilang pada diri sendiri "ternyata banyak juga ya tempat-tempat keren kayak begini di Indonesia".
Salah satu yang paling berkesan buat saya dari perjalanan ini adalah Ijen Crater atau Kawah Ijen. Kawah Ijen ini letaknya di dekat Banyuwangi, Jawa Timur.
Pertama kali saya mengenal tentang Kawah Ijen adalah dari karya photographer ternama Amerika, James Nachtwey. Beliau membuat documentary photos tentang sulphur miners di daerah Ijen. Kalau melihat hasil jepretan beliau, saya seperti ingin nangis di tempat karena saking bagusnya.
Karena melihat foto-foto inilah, akhirnya saya bertekad untuk melihat Kawah Ijen dengan mata kepala sendiri. Ternyata Ijen lebih cantik lagi dipandang dengan mata kepala sendiri. Aduhai... aku jadi jatuh cinta.
Jawa Tengah dan Sulawesi juga tidak kalah cantik sama Jawa Timur. Tapi setiap tempat yang saya kunjungi punya charm-nya masing-masing. Saya pikir Indonesia patut diexplore lebih banyak lagi.
Tuesday, 2 August 2011
Bus Tana Toraja Jemput Penumpang dan... Babi
Tana Toraja adalah sebuah daerah di Sulawesi Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Daging babi adalah salah satu daging favorit penduduk Tana Toraja untuk dikonsumsi. Jadi tidaklah heran kalau perternakan babi mudah ditemui di desa-desa di sekeliling Tana Toraja.
Waktu saya naik bus umum dari Rantepao ke Batutumonga, ada kejadian antik yang saya tidak pernah lihat sebelumnya. Bus umum yang saya naik bukan bus besar, tapi lebih mirip mini bus. Bus itu banyak berhenti di tengah jalan untuk menjemput penumpang-penumpang lokal yang hendak pulang ke desa mereka setelah berbelanja di Rantepao (salah satu kota besar di Tana Toraja).
Setelah 45 menit berlalu, salah satu penumpang di dalam bus meminta kepada supir bus untuk mampir ke pasar tempat jual beli babi. Bus pun berhenti di pasar itu selama 20 menit. Saya pikir, palingan juga si penumpang cuman mau beli potongan-potongan daging babi. Kok lama bener sih. Eh, gak taunya yang dibeli si penumpang adalah seekor babi hitam yang masih hidup. Hah, serius loe mau bawa tuh babi ke dalam bus?
Si babi diikat terlebih dahulu ke sepotong bambu. Lalu si supir dan si penjual babi menggotong babi malang itu ke belakang bus. Si babipun diikatkan ke pantat bus (bukan ditaruh di dalam bagasi). Babi itu pun menangis histeris minta tolong, mungkin juga nangis karena dipisahkan dari ibunya. Tangisan babi itu bisa didengar sepanjang perjalanan yang lumayan panjang. Grook... kaing, kaing, kaing grroook grook.
Pertamanya saya merasa hal ini sangat lucu dan fascinating. Lama-lama saya jadi merasa kasihan sama si babi yang terus-terusan menangis seperti orang yang disiksa sepanjang perjalanan bus yang panjang. Bener-bener baru liat pemandangan antik seperti ini. Jadi speechless dan stress juga.
Waktu saya naik bus umum dari Rantepao ke Batutumonga, ada kejadian antik yang saya tidak pernah lihat sebelumnya. Bus umum yang saya naik bukan bus besar, tapi lebih mirip mini bus. Bus itu banyak berhenti di tengah jalan untuk menjemput penumpang-penumpang lokal yang hendak pulang ke desa mereka setelah berbelanja di Rantepao (salah satu kota besar di Tana Toraja).
Setelah 45 menit berlalu, salah satu penumpang di dalam bus meminta kepada supir bus untuk mampir ke pasar tempat jual beli babi. Bus pun berhenti di pasar itu selama 20 menit. Saya pikir, palingan juga si penumpang cuman mau beli potongan-potongan daging babi. Kok lama bener sih. Eh, gak taunya yang dibeli si penumpang adalah seekor babi hitam yang masih hidup. Hah, serius loe mau bawa tuh babi ke dalam bus?
Si babi diikat terlebih dahulu ke sepotong bambu. Lalu si supir dan si penjual babi menggotong babi malang itu ke belakang bus. Si babipun diikatkan ke pantat bus (bukan ditaruh di dalam bagasi). Babi itu pun menangis histeris minta tolong, mungkin juga nangis karena dipisahkan dari ibunya. Tangisan babi itu bisa didengar sepanjang perjalanan yang lumayan panjang. Grook... kaing, kaing, kaing grroook grook.
Pertamanya saya merasa hal ini sangat lucu dan fascinating. Lama-lama saya jadi merasa kasihan sama si babi yang terus-terusan menangis seperti orang yang disiksa sepanjang perjalanan bus yang panjang. Bener-bener baru liat pemandangan antik seperti ini. Jadi speechless dan stress juga.
Sunday, 31 July 2011
Kematian dan Orang Toraja
Waktu saya bertandang ke Tana Toraja, ada satu hal yang paling mencolok dari kehidupan di Tana Toraja. Kematian.
Kematian adalah bagian yang paling penting dari kehidupan orang-orang di Tana Toraja. Sampai-sampai banyak yang bilang bahwa Orang Tana Toraja bersusah payah mencari nafkah seumur hidupnya hanya untuk membiayai upacara pemakaman mereka.
Oh ya, dan di Tana Toraja orang biasanya bukan bilang "upacara pemakaman" tapi "pesta". Jadi jangan heran ya, kalau kamu di ajak ke "pesta", eh gak taunya diajak ke upacara pemakaman. Pesta pemakaman ini juga ternyata dilakukan pada bulan-bulan tertentu saja, kalau kata mereka namanya "musim pesta".
Setelah berbincang dengan penduduk setempat, saya baru tahu kalau kebanyakan Orang Toraja tidak langsung dikubur setelah kematian. Dikubur setelah satu atau dua tahun setelah kematian itu sudah sangat umum di Tana Toraja. Rupanya mereka menunggu supaya sanak saudara yang jauh-jauh bisa dikumpulkan untuk datang ke pestanya. Ada juga yang menunda pesta sampai bertahun-tahun karena alasan dana. Kalau dana sudah terkumpul, barulah pesta kematian dilangsungkan. Si orang yang sudah meninggal biasanya disuntik dengan formalin, didandani dan di taruh di dalam peti mati. Peti matinya pun dihias, dibuka dan disimpan di ruangan khusus di rumah keluarga.
Unik banget ya? Apa hal yang seperti ini mungkin cuman terjadi di Tana Toraja? Saya gak tahu pasti. Cuman yang saya tahu, Tana Toraja adalah salah satu tempat dari sedikit tempat di Indonesia yang masih memegang kuat akar budaya mereka sampai hari ini. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari mereka. Jadi salut sama Orang Toraja.
Kematian adalah bagian yang paling penting dari kehidupan orang-orang di Tana Toraja. Sampai-sampai banyak yang bilang bahwa Orang Tana Toraja bersusah payah mencari nafkah seumur hidupnya hanya untuk membiayai upacara pemakaman mereka.
Oh ya, dan di Tana Toraja orang biasanya bukan bilang "upacara pemakaman" tapi "pesta". Jadi jangan heran ya, kalau kamu di ajak ke "pesta", eh gak taunya diajak ke upacara pemakaman. Pesta pemakaman ini juga ternyata dilakukan pada bulan-bulan tertentu saja, kalau kata mereka namanya "musim pesta".
Setelah berbincang dengan penduduk setempat, saya baru tahu kalau kebanyakan Orang Toraja tidak langsung dikubur setelah kematian. Dikubur setelah satu atau dua tahun setelah kematian itu sudah sangat umum di Tana Toraja. Rupanya mereka menunggu supaya sanak saudara yang jauh-jauh bisa dikumpulkan untuk datang ke pestanya. Ada juga yang menunda pesta sampai bertahun-tahun karena alasan dana. Kalau dana sudah terkumpul, barulah pesta kematian dilangsungkan. Si orang yang sudah meninggal biasanya disuntik dengan formalin, didandani dan di taruh di dalam peti mati. Peti matinya pun dihias, dibuka dan disimpan di ruangan khusus di rumah keluarga.
Unik banget ya? Apa hal yang seperti ini mungkin cuman terjadi di Tana Toraja? Saya gak tahu pasti. Cuman yang saya tahu, Tana Toraja adalah salah satu tempat dari sedikit tempat di Indonesia yang masih memegang kuat akar budaya mereka sampai hari ini. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari mereka. Jadi salut sama Orang Toraja.
Wednesday, 13 July 2011
Horor di Dalam Gua
Tidak semua Orang Toraja yang sudah meninggal dikubur di dalam tanah. Ada juga Orang Toraja yang dikubur di dalam gua. Sebenarnya sih bukan dikubur tapi disimpan.
Setelah 'pesta pemakaman' selesai peti mati pun dibawa ke dalam sebuah kompleks pemakaman gua, dan disimpan di dalam gua tersebut.
Salah satu kompleks pemakaman gua di Tana Toraja adalah Gua Londa di sebelah utara Kota Makale, Tana Toraja. Konon, gua ini adalah kompleks pemakaman gua tertua di Tana Toraja.
Saya dan teman-teman bayar Rp 5000 masing-masing untuk tiket masuk. Berhubung di dalam gua sangat gelap, kita memerlukan lampu minyak untuk menerangi gua untuk bisa melihat isi gua.
Setelah melewati pintu masuk, banyak guide yang menawarkan service nya dan sekaligus membawakan lampu minyaknya. Rate mereka adalah Rp 25000 untuk sekali tour.
Berhubung teman-teman saya budget nya super strict akhirnya kami tidak menyewa guide. Kami pun masuk ke dalam gua hanya dengan menggunakan head lamp yang kami bawa.
Kebetulan orang yang baru masuk sebelum kami menyewa guide. Jadi pas di dalam gua saya sekalian nimbrung dengerin cerita si abang guide sambil numpang liat-liat pake lampu minyaknya si abang guide.
Hihihi duh... I feel like a stingy a$$.
Di dalam gua banyak tengkorak terserak di dinding gua, atap gua dan di lantai gua. Rupanya peti-peti kayu yang digunakan untuk menyimpan tubuh akhirnya rapuh dan pecah setelah bertahun-tahun lamanya. Alhasil, tengkorak pun berserakan di mana-mana.
Saya sih gak begitu serem liat tengkorak-tengkorak berserakan di dalam gua. Rasanya biasa ajah. Kami pun terus mengikuti si abang guide menyusuri gua yang gelap itu. Lalu dia pun bercerita bahwa ada lorong dari gua kanan yang bisa nyambung ke gua kiri, tapi harus merangkak.
Karena berbadan gede, saya akhirnya lewat pintu masuk depan gua saja.
Sebelum kami meninggalkan gua pertama, dia sudah bilang bahwa ada mayat yang baru disimpan di dalam gua 2 bulan yang lalu. "Tapi ada di gua sebelah" ujarnya. Okelah, siapa takut!
Setelah saya sampai di gua sebelah, memang benar ada sebuah peti kayu di dekat pintu masuk gua yang kelihatannya masih baru. Peti itu ditutupi sebuah kain putih.
Si abang guide dengan santai menarik kain itu dan menjelaskan kepada tamunya "Nah, ini orang mati baru masuk gua 2 bulan yang lalu".
Hiiiy!!!! Saya berteriak histeris (tapi hanya di dalam hati)! Saya sampe speechless karena shock berat. Di atas peti mati itu ternyata ada lubang kotak yang ditutup dengan kaca yang tembus pandang.
Dari kaca itu kita bisa melihat jelas wajah sang mayat yang ternyata adalah seorang pria.
Tubuhnya masih utuh, tapi wajahnya sudah menghitam, bibir dan bagian matanya sudah hitam kebiru-biruan campur sedikit hijau. Belatung pun sudah mulai berkeluaran dari dalam hidung si mayat.
Mayat yang sudah disuntik formalin, decomposing process nya lebih pelan walaupun peti mati telah ditutup selama berbulan-bulan.
Tamunya si abang guide pun langsung sibuk jeprat-jepret memfoto wajahnya sang mayat. What the f...?!
Saking shock nya saya gak bisa lihat pemandangan itu lagi dan saya langsung lari ke luar gua.
Baru kali ini saya melihat jelas mayat yang sedang decomposing. HOROR! INI HOROR NAMANYA!
Dalam hati saya bertanya, kenapa pula orang yang sudah meninggal jadi tontonan para turis seperti ini? Rupanya untuk penduduk setempat itu sudah biasa.
This is definitely something that has crossed my line. Anyways, who am I to say it's wrong?
Buktinya di China, mayat Mao Tze Dong di awetkan dengan formalin dan dipajang di dalam peti kaca di dalam sebuah museum untuk menjadi tontonan para pengunjung. Nasib seorang diktator :-p
Setelah 'pesta pemakaman' selesai peti mati pun dibawa ke dalam sebuah kompleks pemakaman gua, dan disimpan di dalam gua tersebut.
Salah satu kompleks pemakaman gua di Tana Toraja adalah Gua Londa di sebelah utara Kota Makale, Tana Toraja. Konon, gua ini adalah kompleks pemakaman gua tertua di Tana Toraja.
Saya dan teman-teman bayar Rp 5000 masing-masing untuk tiket masuk. Berhubung di dalam gua sangat gelap, kita memerlukan lampu minyak untuk menerangi gua untuk bisa melihat isi gua.
Setelah melewati pintu masuk, banyak guide yang menawarkan service nya dan sekaligus membawakan lampu minyaknya. Rate mereka adalah Rp 25000 untuk sekali tour.
Berhubung teman-teman saya budget nya super strict akhirnya kami tidak menyewa guide. Kami pun masuk ke dalam gua hanya dengan menggunakan head lamp yang kami bawa.
Kebetulan orang yang baru masuk sebelum kami menyewa guide. Jadi pas di dalam gua saya sekalian nimbrung dengerin cerita si abang guide sambil numpang liat-liat pake lampu minyaknya si abang guide.
Hihihi duh... I feel like a stingy a$$.
Di dalam gua banyak tengkorak terserak di dinding gua, atap gua dan di lantai gua. Rupanya peti-peti kayu yang digunakan untuk menyimpan tubuh akhirnya rapuh dan pecah setelah bertahun-tahun lamanya. Alhasil, tengkorak pun berserakan di mana-mana.
Saya sih gak begitu serem liat tengkorak-tengkorak berserakan di dalam gua. Rasanya biasa ajah. Kami pun terus mengikuti si abang guide menyusuri gua yang gelap itu. Lalu dia pun bercerita bahwa ada lorong dari gua kanan yang bisa nyambung ke gua kiri, tapi harus merangkak.
Karena berbadan gede, saya akhirnya lewat pintu masuk depan gua saja.
Sebelum kami meninggalkan gua pertama, dia sudah bilang bahwa ada mayat yang baru disimpan di dalam gua 2 bulan yang lalu. "Tapi ada di gua sebelah" ujarnya. Okelah, siapa takut!
Setelah saya sampai di gua sebelah, memang benar ada sebuah peti kayu di dekat pintu masuk gua yang kelihatannya masih baru. Peti itu ditutupi sebuah kain putih.
Si abang guide dengan santai menarik kain itu dan menjelaskan kepada tamunya "Nah, ini orang mati baru masuk gua 2 bulan yang lalu".
Hiiiy!!!! Saya berteriak histeris (tapi hanya di dalam hati)! Saya sampe speechless karena shock berat. Di atas peti mati itu ternyata ada lubang kotak yang ditutup dengan kaca yang tembus pandang.
Dari kaca itu kita bisa melihat jelas wajah sang mayat yang ternyata adalah seorang pria.
Tubuhnya masih utuh, tapi wajahnya sudah menghitam, bibir dan bagian matanya sudah hitam kebiru-biruan campur sedikit hijau. Belatung pun sudah mulai berkeluaran dari dalam hidung si mayat.
Mayat yang sudah disuntik formalin, decomposing process nya lebih pelan walaupun peti mati telah ditutup selama berbulan-bulan.
Tamunya si abang guide pun langsung sibuk jeprat-jepret memfoto wajahnya sang mayat. What the f...?!
Saking shock nya saya gak bisa lihat pemandangan itu lagi dan saya langsung lari ke luar gua.
Baru kali ini saya melihat jelas mayat yang sedang decomposing. HOROR! INI HOROR NAMANYA!
Dalam hati saya bertanya, kenapa pula orang yang sudah meninggal jadi tontonan para turis seperti ini? Rupanya untuk penduduk setempat itu sudah biasa.
This is definitely something that has crossed my line. Anyways, who am I to say it's wrong?
Buktinya di China, mayat Mao Tze Dong di awetkan dengan formalin dan dipajang di dalam peti kaca di dalam sebuah museum untuk menjadi tontonan para pengunjung. Nasib seorang diktator :-p
Friday, 1 July 2011
Gudeg Paling Enak Di Yogya?
Mencicipi makanan yang dimakan oleh penduduk lokal adalah salah satu point terpenting dalam setiap agenda perjalanan saya.
Termasuk waktu keYogya. Kalau 100 orang Yogya ditanya apa sih makanan khas Yogya? Semuanya pasti jawab, Gudeg. Memang gak salah kalau Yogya itu disebut Kota Gudeg.
Kalau begitu di mana Gudeg yang paling enak di Yogya? Well, memang enak itu relative.
Tapi kalau kata penduduk lokal (ini katanya loh) restoran-restoran Gudeg yang paling enak di Yogya itu ada di Jalan Widjilan.
Tanpa banyak bicara, saya pun menyeret teman-teman saya langsung menuju ke Jalan Widjilan. Seorang teman yang orang lokal merekomendasikan Gudeg Bu Widodo yang ada di jalan itu juga. Ternyata setelah dicicipi, memang lain.
Gudeg Bu Widodo, kreceknya besar-besar dan warnanya bikin nafsu. Sayur Gudegnya pun terlihat segar. Wah... gak nyesel mati-matian jalan kaki dari Jalan Maliboro ke Jalan Widjilan. Hehehe setelah makan, hati pun senang. Burp... oops.
Termasuk waktu keYogya. Kalau 100 orang Yogya ditanya apa sih makanan khas Yogya? Semuanya pasti jawab, Gudeg. Memang gak salah kalau Yogya itu disebut Kota Gudeg.
Kalau begitu di mana Gudeg yang paling enak di Yogya? Well, memang enak itu relative.
Tapi kalau kata penduduk lokal (ini katanya loh) restoran-restoran Gudeg yang paling enak di Yogya itu ada di Jalan Widjilan.
Tanpa banyak bicara, saya pun menyeret teman-teman saya langsung menuju ke Jalan Widjilan. Seorang teman yang orang lokal merekomendasikan Gudeg Bu Widodo yang ada di jalan itu juga. Ternyata setelah dicicipi, memang lain.
Gudeg Bu Widodo, kreceknya besar-besar dan warnanya bikin nafsu. Sayur Gudegnya pun terlihat segar. Wah... gak nyesel mati-matian jalan kaki dari Jalan Maliboro ke Jalan Widjilan. Hehehe setelah makan, hati pun senang. Burp... oops.
Subscribe to:
Posts (Atom)